Beribu ampun, Tuan Perumus! Sampai sekarang kami belum tau siapa pastinya yang merumuskan 5 poin yang dijadikan falsafah bernegara ini. Ada yang mengatakan, Bung Flamboyan nan karismatik itu yang merumuskan. Tapi ada yang membantah, katanya 5 sila itu bersumber dari literatur yang dibuat oleh Sang sejarawan yang lebih mendalami firasat daripada filsafat. Kemudian dibantah lagi, yang membantah bukan orang sembarangan, dia dijuluki Bapak Koperasi, katanya buku itu ditulis dengan acuan transkrip perdebatan dalam BPUPKI. Maka bukan dari sanalah dasar pemikiran yang original. Begitu seterusnya, berbantahan yang tak kunjung usai..
Siapa yang merumuskannya, menurutku itu tidaklah penting! Yang penting adalah, siapa yang mampu untuk melaksanakannya. Melaksanakan bukan sekedar simbol, bukan sekedar formalistik, bukan sekedar membuat spanduk dengan kata kata yang hampir tidak berubah tiap tahunnya. Tetapi pelaksanaan yang substansial, yang menjiwai, dan menjadi dasar filosofi atas segala yang dikerjakan. Jika itu dapat terlaksana, maka niscaya tidak akan ada orang yang ditangkap karena dinilai melecehkan, hanya karena menganalogikannya dengan goyangan bebek. Tetapi yang ditangkap adalah para pemangku kebijakan, yang tidak bisa menjelaskan turunan pancasila dalam setiap kebijakannya..
Negara ini sedang kacau. Disaat yang lain sedang maraknya konservasi, negara ini justru marak dengan izin reklamasi. Disaat yang lain sedang memperjuangkan hak asasi, negara ini justru berjuang untuk hukuman mati dan kebiri. Disaat yang lain sibuk dengan etika politik, negara ini boro-boro memikirkan etika, yang dipikirkan dalam politik hanyalah urusan perut sendiri.
Dengan segala kekacauannya, yang sebenarnya juga tidak kacau, karna kacau itu tidak berpola. Tapi kita justru terpola dengan kekacauan kita! Silahkan sebutkan satu urusan di negara ini yang tidak menggambarkan kekacauan.
Apakah kekacauan tersebut dapat diobati dengan seminar satu hari? Yang setelah seminar semuanya pun menjadi menguap. Atau spanduk dengan kata kata menggebu? Yang wallahualam siapa yang melaksanakan kata kata tersebut.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Jangan buru buru pesimis, Tuan Pembaca. Tuhan itu tidak iseng, selalu ada alasan dibalik kejadian yang diciptakannya. Anggaplah kekacauan tersebut sebagai Amr Tuhan terhadap kita, dan kita diperintahkan untuk membereskan itu semua.
Jika kau dilahirkan di negara yang telah tertib dan semuanya tertata, maka kau cukup bersekolah-bekerja-berkembang biak lalu mati. Tapi di negara ini, jika kau hanya bertindak demikian, maka anak-cucumu akan terus menderita. Tegakah kita mewariskan ini semua ke mereka?
Tulisan ini bukan bermaksut untuk menyalahkan, menyudutkan atau menjustifikasi usaha-usaha yang telah dimulai untuk menjiwai kelima sila ini. Maka tulisan ini hanya akan menganjurkan, sebelum kau ingin menanamkan Pancasila ke dalam masyarakat, maka tanamkanlah terlebih dahulu ke dalam jiwamu. Ada rumusan simpel untuk memaknainya, aku kutip dari perkataan Sujiwo Tejo. Dalang edan itu mengatakan "sila pertama sampai ketiga itu adalah dasar, tujuannya adalah sila kelima, dan sila keempat adalah usaha atau cara untuk mewujudkannya."
Cukup simpel bukan? Maka jika ada tindak-tandukmu yang semakin menjauh dari hal itu, maka perbaikilah. Tentu dengan tahapan, memperbaiki diri sendiri, baru kau perbaiki orang lain.
Selain itu, tulisan ini juga ingin menghubungkan pancasila dengan kunci sukses untuk membangun peradaban , yang telah dirumuskan didalam Asy-syuro 42 : 38 , yaitu "dan (bagi) orang orang yang mematuhi seruan Tuhan dan melaksanakan solat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Untuk dapat mewujudkan keadilan sosial (sila kelima) maka kau harus mematuhi ajaran dan seruan Tuhan (sila pertama), seruan yang paling utama adalah shalat. Karena shalat merupakan tiang agama dan amalan yang paling pertama dihisab. Dalam melaksanakan sholat terdapat ketentuan baik dari segi waktu, rakaat, dsb. Disana diajarkan cara untuk meletakkan sesuatu sesuai porsinya dan mengikuti etika etikanya (sila kedua). Dan sholat yang paling utama adalah yang dilaksanakan secara berjamaah dan dimesjid. Jika mesjid menjadi hidup, maka interaksi sosial pun menjadi meningkat. Dengan demikian, sehubungan memperkuat hablum minallah, kita juga turut mengembangkan hablum minannas, dan semakin menguatkan ukhuwah islamiyah (sila ketiga). Jika persatuan telah menguat, maka urusan urusan pun akan diselesaikan secara bersama, dan disyaratkan didalam ayat tersebut urusan bersama haruslah dilaksanakan secara musyawarah (sila keempat). Dan untuk menyelesaikan persoalan bersama tersebut, diperlukan adanya pengorbanan, baik dari segi materi, waktu, atau hanya pikiran. Maka dalam perjuangan, pengorbanan itu mutlak diperlukan, agar dapat mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat (sila kelima).
Wallahualam bisshowab
Wabillahitaufiq walhidayah
Mari kita akhiri pembacaan tulisan ini dengan melafadzkan doa kafaratul majelis..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar