Selasa, 01 November 2016

Menguraikan yang kusut..

Tuan, dalam diam aku tak tenang! Pikiran bercabang, permasalahan satu dan lainnya saling berlomba untuk diselesaikan. Ini salah satu usahaku untuk menguraikannya. Mudah mudahan engkau mengerti, meski aku tak memaksamu untuk mengerti.

Di tanah ini, aku mempelajari kesantunan. Dan dibalik kesantunan itu, ternyata terdapat kesewenangan yang dilegalkan! Sepintas kita anggap mereka feodal. Pergantian kekuasaan memang bercorak feodal. Ah, tapi syarat utama feodal tidak kita temukan. Tidak ada tanda tanda adanya perbudakan. Tapi ini apa, Tuan?

Sini, aku bisikkan sesuatu. Disini, ada banyak tanah yg merupakan milik mereka. Hak milik mereka dilindungi peraturan. Luasnya jangan ditanya, sehari semalam tidak akan cukup untuk mengukurnya. Tapi taukah, Tuan? Tanah itu telah jadi hotel mewah, telah jadi pusat perbelanjaan yang megah, tentu tak lupa munculnya bangunan vertikal ke atas yg akan menjadi tempat tinggal yang meriah.

Salahkah mereka, Tuan? Peraturan dan pemilik modal tidak berkata demikian. Bijaksanakah mereka, Tuan? Silahkan cari jawaban, berbaurlah dengan masyarakat. Tanyakan ke tukang becak, pemilik angkringan, dan siapapun yg telah lama hidup dan menjadi ikon kota ini. Apapun jawaban mereka, yg jelas jangan berharap suasana kini akan seindah dulu.

Sepeda berseliweran di jalan hanya akan kau temukan pada malam jumat setiap akhir bulan. Itu bukan keseharian, itu adalah perayaan. Ntah siapa yg memulainya aku pun tak tau. Keramah-tamahan, saling tegur sapa, dan kesantunan lainnya hanya akan kau temukan di pedalaman. Jika ditengah kota, mungkin kau harus masuk ke gang gang dulu untuk menemukannya. Jika dijalan protokol, ampun Tuan, gawat, semuanya akan diukur dengan seberapa tebal kantongmu. Kota pelajar yang ruang ruang diskusi nya lebih sering diisi dengan acara hiburan.

Perbudakan kah ini, Tuan? Tentu bukan, tapi lebih mematikan! Perbudakan hanya menganggu hak hak individu bersangkutan, tapi ini, ah, aku tidak mendapatkan kata kata yang pas, Tuan.

Pantaskah mempersoalkan ini, Tuan? Seorang perantau sepertiku, seekor semut yang terjebak disebuah badai besar. Keilmuan, kecakapan, dan hal hal lainnya yang diperlukan masih harus diasah lagi. Jikapun persoalan ini tidak dapat kita selesaikan, mudah mudahan ada anak cucu atau siapapun yg meneruskan.

Kepada teman teman yg tidak kukenal, masih pantaskah kita menyibukkan diri dengan urusan pribadi?

Kepada teman teman yg sudah kukenal, atau yg lazim saling memanggil dengan sebutan teman seperjuangan, masih pantaskah kita menyibukkan diri dengan hal hal teknis yang tak kunjung selesai? Mudah mudahan kalian juga telah selesai dengan penempatan diri, atau mengerti apa konsekuensi dari jabatan yg ada di punggungmu.

Ini hanya contoh kecil, yg lebih besar tidak terhitung jumlahnya. Gunung emas di Papua sana. Potensi konflik antar agama. Atau masalah dasar, laut yg lebih luas daripada daratan tapi kita memperbanyak roda, bukan memperbanyak layar. Dan lain sebagainya, Tuan.

Aku tidak menuntut mari kita selesaikan semuanya. Aku hanya menuntut selesaikan apa yang telah kau mulai. Meskipun kecil, setidaknya kita berangsur angsur ke arah yang lebih besar.


Yogyakarta, 22 des '15. 04.53.
Menahan lapar di pagi buta.
Berusaha tidur agar terbangun segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar